LIVE TV
Kunjungi Korban Kebakaran, Bupati Anwar Sadat Ikut Prihatin dan Serahkan Bantuan Tutup Festival Arakan Sahur, Bupati Ceritakan Kenangan Masa Kecil Safari Ramadhan Betara Kiri, Bupati Paparkan Peruntukkan Zakat dari TPP Polres Tanjabbar Gelar Apel Operasi Ketupat Idul Fitri 1443H Bupati Anwar Sadat Sidak, Harga Sembako di Tungkal Stabil

Home / DAERAH JAMBI / POLITIK

Senin, 5 Oktober 2020 - 15:09 WIB

Puji Kegigihan Kartini Anshar, UAS Beber Alasan Pilih Nama Kartini Anshar

DEWARTA.COM – Barisan relawan pemenangan Drs KH Anwar Sadat, M.Ag – Hairan,SH (Anshar), semakin terlihat rajin dan solid melakukan komunikasi politik dan sosialisasi ke masyarakat.


Tak ketinggalan barisan relawan Kartini Anshar pun mulai terlihat mengepakkan sayapnya hingga ke pelosok Desa dan Kelurahan.


Melihat keuletan barisan Kartini Anshar yang mulai terbentuk di banyak titik mata pilih itu, Calon Bupati Tanjab Barat, Ustadz KH Anwar Sadat (UAS) mengucapkan rasa syukur dan apresiasi kepada para relawan pendukung yang gigih dan ulet membawa semangat perubahan dan keberkahan bagi Kabupaten Tanjung Jabung Barat.


“Alhamdulillah, khusus Kartini Anshar ini kita andalkan untuk mengajak suaminya ikut juga menjadi bagian dari barisan Anshar. Karena biasanya suami ini nurut dengan istri,” ujar UAS, melontarkan guyonan sekaligus apresiasi atas partisipasi dan semangat barisan Kartini Anshar yang dikomandoi Hj Fadhilah istri Cabup UAS.


“Sengaja kami sematkan istilah Kartini Anshar ini, karena sosok Kartini punya peran cukup besar dalam membangun pendidikan, moral dan mental bangsa kita ini,” ujar UAS lagi.


“Kartini merupakan murid dari Syekh Muhammad Saleh. Kartini merupakn pahlawan pertama yang minta terjemahan Al Quran ke dalam bahasa kita,” urai UAS 

Baca Juga  Refleksi 1 Tahun Kepemimpinan UAS - Hairan Juga Diisi dengan Makan Gratis dan Vaksinasi

Kegelisahan Kartini terjawab saat dia bertemu seorang ulama dari Darat, Semarang, Jawa Tengah. Ulama itu adalah Kiai Sholeh Darat.


Keduanya bertemu dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, paman Kartini. Saat itu, Kiai Sholeh sedang memberikan pengajaran tentang tafsir surat Al Fatihah, surat pembuka dalam Alquran. Satu hal yang sangat baru ditemui dan didengar Kartini.
Pertemuan Kartini dan sang ulama dituturkan cucu Kiai Sholeh, Fadhila Sholeh. Fadhila memaparkan hal ini lewat tulisan dalam bentuk selebaran yang terdapat di makam Kiai Sholeh di Semarang.


Sebelumnya, Kartini memang tak pernah tahu apa arti dan makna dari surat Al Fatihah meski ia sering membacanya. Kartini benar-benar terpukau dan tersedot perhatiannya.


Begitu pengajian usai, Kartini saat itu segera menemui pamannya. Ia menyampaikan keinginan bertemu Kiai Sholeh untuk berguru. Perempuan kelahiran Rembang 21 April 1879 itu bahkan sampai mendesak pamannya untuk menemani dirinya menemui sang ulama.


Usahanya tak sia-sia. Pamannya yang terenyuh melihat Kartini pun mengantarnya.


“Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?” tutur Kartini membuka dialog dengan Kiai Sholeh Darat setelah berbasa-basi lazimnya orang Jawa.

Baca Juga  Bayi Mungil Ini, Gratis Naik Kapal Seumur Hidup


Kiai Sholeh malah balik bertanya, “Mengapa Raden Ajeng mempertanyakan hal ini? Kenapa bertanya demikian?”
Dijawab oleh Kartini, “Kiai, selama hidupku baru kali ini saya berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku.”
Kartini lalu menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah diberi kesempatan memahami Al Fatihah. Kyai Sholeh tertegun. Kiai kharismatik itu tak kuasa menyela.


“Namun, saya heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Alquran. Bukankah Alquran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” ucap Kartini.
Dialog berhenti, Kiai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali bertasbih, “Subhanallah.”


Kartini telah menggugah kesadaran Kiai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar, menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.


“Dan Raden Ajeng Kartini stelah maghrib dan isya ia rajin baca al quran. Ia pun rajin berdoa bagi kebaikan bangsa,” urai UAS.


“Jadi kalau ada yang bertanya, itulah alasan kita memakai istilah Kartini Anshar ini,” jelas UAS. (sya)

Share :

Baca Juga

DAERAH JAMBI

Permudah Akses Masyarakat, Bupati Tinjau Perbaikan Jalan di Pembengis

DAERAH JAMBI

Cabup UAS Luncurkan Program Ini Bentuk Generasi Melek Aksara Al Qur’an

DAERAH JAMBI

Ketua PWI Tanjabbar Terharu Wakapolres Kerinci Kompol Wirmanto Ikut Beri Ucapan Selamat

DAERAH JAMBI

Warga Muara Papalik Sambut UAS – Hairan dengan Lantunan Merdu Surat Muhammad

DAERAH JAMBI

‘Santai Tapi Cemerlang’ Mengenal Lebih Dekat Cabup UAS, Semasa Kecil Hingga Dewasa dari Orang Terdekat

DAERAH JAMBI

Jaga Silaturahmi dengan Para Ulama Sepuh, Gazali : UAS Punya Ikatan Kuat Lahir Batin

DAERAH JAMBI

Warga Tanjabbar Ini Optimis UAS-Hairan Pemenang Pilkada Tanjabbar, Ini Syaratnya

DAERAH JAMBI

Blusukan Dengar Curhat Warga Desa Kuala Indah, UAS Nilai Perlu Tambah Anggaran Guru PAUD, Penyuluh dan Madrasah